Pages

Senin, 25 Januari 2010

Menghafal Al-Quran

Sebagai seorang mukmin, kita tentunya berkeinginan untuk dapat menghafal Al-Quran dan setiap kita pasti memimpikan agar dapat melahirkan anak-anak yang hafal Al-Quran (hafidz/hafidzah). Berikut ini ada beberapa cara/kaidah dasar untuk memudahkan menghafal, di antaranya:

1. Mengikhlaskan niat hanya untuk Allah Azza wa Jalla.
Memperbaiki tujuan dan bersungguh-sungguh menghafal Al-Quran hanya karena Allah Subhanahu wa Ta`ala serta untuk mendapatkan syurga dan keridhaan-Nya. Tidak ada pahala bagi siapa saja yang membaca Al-Quran dan menghafalnya karena tujuan keduniaan, karena riya atau sumah (ingin didengar orang), dan perbuatan seperti ini jelas menjerumuskan pelakunya kepada dosa.

2. Dorongan dari diri sendiri, bukan karena terpaksa.

Ini adalah asas bagi setiap orang yang berusaha untuk menghafal Al-Quran. Sesungguhnya siapa yang mencari kelezatan dan kebahagiaan ketika membaca Al-Quran maka dia akan mendapatkannya.

3. Membenarkan ucapan dan bacaan.


Hal ini tidak akan tercapai kecuali dengan mendengarkan dari orang yang baik bacaan Al-Qurannya atau dari orang yang hafal Al-Quran. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam sendiri mengambil/belajar Al-Quran dari Jibril alaihis salam secara lisan. Setahun sekali pada bulan Ramadhan secara rutin Jibril alaihis salam menemui beliau untuk murajaah hafalan beliau. Pada tahun Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam diwafatkan, Jibril menemui beliau sampai dua kali.
Para shahabat radliallahu `anhum juga belajar Al-Quran dari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam secara lisan demikian pula generasi-generasi terbaik setelah mereka. Pada masa sekarang dapat dibantu dengan mendengarkan kaset-kaset murattal yang dibaca oleh qari yang baik dan bagus bacaannya. Wajib bagi penghafal Al-Quran untuk tidak menyandarkan kepada dirinya sendiri dalam hal bacaan Al-Quran dan tajwidnya.


4. Membuat target hafalan setiap hari.


Misalnya menargetkan sepuluh ayat setiap hari atau satu halaman, satu hizb, seperempat hizb atau bisa ditambah/dikurangi dari target tersebut sesuai dengan kemampuan. Yang jelas target yang telah ditetapkan sebisa mungkin untuk dipenuhi.

5. Membaguskan hafalan.


Tidak boleh beralih hafalan sebelum mendapat hafalan yang sempurna. Hal ini dimaksudkan untuk memantapkan hafalan di hati. Dan yang demikian dapat dibantu dengan mempraktekkannya dalam setiap kesibukan sepanjang siang dan malam.

6. Menghafal dengan satu mushaf.
Hal ini dikarenakan manusia dapat menghafal dengan melihat sebagaimana bisa menghafal dengan mendengar. Dengan membaca/melihat akan terbekas dalam hati bentuk-bentuk ayat dan tempat tempatnya dalam mushaf.
Bila orang yang menghafal Al-Quran itu merubah/mengganti mushaf yang biasa ia menghafal dengannya maka hafalannya pun akan berbeda-beda pula dan ini akan mempersulit dirinya.

7. Memahami adalah salah satu jalan untuk menghafal.
Di antara hal-hal yang paling besar/dominan yang dapat membantu untuk menghafal Al-Quran adalah dengan memahami ayat-ayat yang dihafalkan dan juga mengenal segi-segi keterkaitan antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya.

Oleh sebab itu seharusnyalah bagi penghafal Al-Quran untuk membaca tafsir dari ayat-ayat yang dihafalnya, untuk mendapatkan keterangan tentang kata-kata yang asing atau untuk mengetahui sebab turunnya ayat atau memahami makna yang sulit atau untuk mengenal hukum yang khusus. Ada beberapa kitab tafsir yang ringkas yang dapat ditelaah oleh pemula seperti kitab Zubdatut Tafsir oleh Asy-Syaikh Muhammad Sulaiman Al-Asyqar.
Setelah memiliki kemampuan yang cukup, untuk meluaskan pemahaman dapat menelaah kitab-kitab tafsir yang berisi penjelasan yang panjang seperti Tafsir Ibnu Katsier, Tafsir Ath-Thabari, Tafsir As- Sadi dan Adhwaaul Bayaan oleh Asy-Syanqithi.wajib pula menghadirkan hatinya pada saat membaca Al-Quran.

8. Tidak pindah ke surat lain sebelum hafal benar surat yang sedang dihafalkan.
Setelah sempurna satu surat dihafalkan, tidak sepantasnya berpindah ke surat lain kecuali setelah benar-benar sempurna hafalannya dan telah kokoh dalam dada.

9. Selalu memperdengarkan hafalan (disimak oleh orang lain).
Orang yang menghafal Al-Quran tidak sepantasnya menyandarkan hafalannya kepada dirinya sendiri. Tetapi wajib atasnya untuk memperdengarkan kepada seorang hafidz atau mencocokkannya dengan mushaf. Hal ini dimaksudkan untuk mengingatkan kesalahan dalam ucapan, atau syakal ataupun lupa.
Banyak sekali orang yang menghafal dengan hanya bersandar pada dirinya sendiri, sehingga terkadang ada yang salah/keliru dalam hafalannya tetapi tidak ada yang memperingatkan kesalahan tersebut.

10. Selalu menjaga hafalan dengan murajaah.
Bersabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam :
"Jagalah benar-benar Al-Quran ini, demi Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, Al-Quran lebih cepat terlepas daripada onta yang terikat dari ikatannya."
Maka seorang yang menghafal Al-Quran bila membiarkan hafalannya sebentar saja niscaya ia akan terlupakan. Oleh karena itu hendak hafalan Al-Quran terus diulang setiap harinya. Bila ternyata hafalan yang ada hilang dalam dada tidak sepantasnya mengatakan: "Aku lupa ayat (surat) ini atau ayat (surat) itu." Akan tetapi hendaklah mengatakan: "Aku dilupakan.

11. Bersungguh-sungguh dan memperhatikan ayat yang serupa.


Khususnya yang serupa/hampir serupa dalam lafadz, maka wajib untuk memperhatikannya agar dapat hafal dengan baik dan tidak tercampur dengan surat lain.

12. Mencatat ayat-ayat yang dibaca/dihafal.
Ada baiknya penghafal Al-Quran menulis ayat-ayat yang sedang dibaca/dihafalkannya, sehingga hafalannya tidak hanya di dada dan di lisan tetapi ia juga dapat menuliskannya dalam bentuk tulisan. Berapa banyak penghafal Al-Quran yang dijumpai, mereka terkadang hafal satu atau beberapa surat dari Al-Quran tetapi giliran diminta untuk menuliskan hafalan tersebut mereka tidak bisa atau banyak kesalahan dalam penulisannya.

13. Memperhatikan usia yang baik untuk menghafal.
Usia yang baik untuk menghafal kira-kira dari umur 5 tahun sampai 25 tahun. Wallahu alam dalam batasan usia tersebut. Namun yang jelas menghafal di usia muda adalah lebih mudah dan lebih baik daripada menghafal di usia tua.
Pepatah mengatakan: Menghafal di waktu kecil seperti mengukir di atas batu, menghafal di waktu tua seperti mengukir di atas air.


Ada sedikit cerita. . .

Hafal Qur'an Tanpa Netra 

‘’Alhamdulillah, akhirnya saya dapat berbicara empat mata dengan Ustadz Yusuf Mansur, meskipun mata saya tidak dapat melihat wajahnya yang ganteng,’’ ujar Awaluddin Jamil Batubara, ketika diterima Ustadz Yusuf Mansur di Rumah Tahfidz Daarul Qur’an, Cimanggis Sabtu (9/1).


Bagi Ustadz Yusuf Mansur, tamunya malam itu sangat istimewa. Lelaki dari Padang Sidempuan yang tunanetra sejak usia belia ini, seorang Penghafal Qur’an (Al Hafidz).

Anugerah kemampuan menghafal Qur’an 30 juz, diperoleh Awaluddin lantaran kecintaannya pada Kalamullah.

Berawal dari seringnya dia mendengarkan orang membaca ayat-ayat Al Qur’an di surau, lama kelamaan hatinya pun tertambat pada Kitabullah.

“Dulu, waktu masih SD, saya sering pura-pura permisi buang air kecil, padahal pingin keluar kelas buat mendengarkan suara orang mengaji,” kenang Awaluddin, menuturkan ihwal ketertarikannya kepada Qur’an. Waktu itu ia masih kelas tiga SD di Padang Sidempuan, Sumatera Utara. ‘’Nggak tahu kenapa, air mata saya berlinang bila mendengar lantunan ayat suci dari surau-surau di di lembah sekitar sekolah,’’ katanya.

Ingin melantunkan sendiri Kalam Ilahi, Awaluddin pun getol berupaya membaca Al Qur’an di surau dan masjid.

Ketika hafalannya memasuki juz ke-3, tiba-tiba penglihatan Awaluddin berangsur-angsur memburuk, hingga buta total saat ia hendak menempuh ujian SD. Terpaksa ia berhenti sekolah, namun semangatnya menghafal Qur’an tak surut.

Pertemuannya dengan sesama tunanetra yang sudah hafal 8 juz Qur’an pada 1993, meluapkan semangat Awaluddin untuk berguru pada Hamsir Siregar, pengajar si tunanetra tersebut.

Hasilnya, luar biasa, meskipun tuna netra, Awaluddin hafal 30 juz.
Tahun 1994, dia berangkat ke Pulau Jawa dengan niat hendak menimba ilmu di pesantren. Ia sempat ditampung sebuah yayasan tuna netra di bilangan Cawang. Di sini dia belajar huruf Alquran Braile.
Setahun di yayasan itu, Awaluddin kemudian pindah ke Pesantren Darul Muta’alimin, Bogor.
Tiga bulan kemudian, ia hijrah ke Lampung tahun 1997. Di sini dia mengajar tahfidzul Quran (hafalan Alquran) di Pesantren Miftahul Falah, lalu ke Daarul Hikmah, Bandar Lampung.

Pada tahun 2001 dia memutuskan kembali ke Jakarta dan mengajar di Pondok Pesantren Tanfidzul Qur’an Al Husnayain.

Pengasuh Al Husnayain sekaligus pembimbing Awaluddin, KH Ahmad Cholil Ridwan Lc, menyebut Awaluddin sebagai “Ensiklopedi Alquran Berjalan.” Bahkan dengan kepiawaian inilah pada tahun 2002 Awaluddin mendapat rejeki naik haji gratis atas undangan pemerintah Saudi Arabia.

Bermula ketika Awaluddin diajak KH Cholil Ridwan tampil di penutupan Musabaqah Hifdzil Qur’an wal Hadist (MHQ) di Masjid At-Tin, TMII, Jakarta Timur. Saat itu, di sela acara, Awaluddin dites hafalannya oleh KH Cholil Ridwan, Menteri Agama RI Said Aqil al-Munawar Al Hafidz, Dubes Arab Saudi, dan Wakil Pimpinan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia-Arab Saudi (LIPIA).

Terkesan dengan penampilan Awaluddin, Dubes Arab Saudi lantas menawarinya untuk haji atau umroh. Tentu saja Awaluddin yang sudah lama merindukan Baitullah, memilih yang pertama.

haizdBerikutnya, ia dikirim mengikuti Musabaqah Hifdzil Quran di Saudi Arabia, dan berhasil menjadi juara pertama.

Terakhir, Awaluddin yang beristrikan Nurkhoiriyah dan dikaruniai tiga putera: Azni Najmudin (kelas 4 SD), Mukholashidqin (kelas 3), dan Miqdad (kelas 2), mengasuh sebuah ponpes di kampung halamannya.

Tertarik dengan Program PPPA Daqu, dia pun berupaya menemui Ustadz Yusuf Mansur. Namun kehadiran yang pertama ke Ketapang bersama salah seorang simpul PPPA, H Dani, belum ketemu Sang ‘’Ustadz Sedekah’’.

Ketika akhirnya bertemu, Awaluddin siap mengabdikan diri sebagai Pembina Ponpes Tahfidz Qur’an Daarul Qur’an. Tentu saja tanpa menelantarkan ponpes asuhannya di Padang Sidempuan. Bahkan pondoknya akan dikembangkan dengan dukungan Program PPPA.

‘’Dengan dukungan para donator PPPA, Ustadz Awaluddin pun siap merintis setidaknya 10 Rumah Tahfidz di Medan, melalui jaringan kawan-kawannya sesama Penghafal Qur’an,’’ ujar Direktur Eksekutif PPPA Daqu, Tarmizi, yang turut menerima kehadiran Awaluddin di Cimanggis. (aya hasna)
 
Ya Allah cerita tersebut benar2 membuat aku malu, aku dengan keadaan sempurna begini kenapa masih terasa sulit dalam menghafal kalam Mu?
Al-Mulk yg sejak desember kemarin dihafalin belum2 hafal smpe sekarang ?
Ada apa dengan diri ku?

HAL-HAL YANG DAPAT MENGHALANGI HAFALAN 
1. Banyaknya dosa dan maksiat.
Sesungguhnya dosa dan maksiat akan melupakan hamba terhadap Al-Quran dan terhadap diriny sendiri. Hatinya akan buta dari dzikrullah.
2. Tidak adanya upaya untuk menjaga hafalan dan mengulangnya secara terus-menerus. Tidak mau memperdengarkan (meminta orang lain untuk menyimak) dari apa-apa yang dihafal dari Al-Quran kepada orang lain.
3. Perhatian yang berlebihan terhadap urusan dunia yang menjadikan hatinya tergantung dengannya dan selanjutnya tidak mampu untuk menghafal dengan mudah.
4. Berambisi menghafal ayat-ayat yang banyak dalam waktu yang singkat dan pindah ke hafalan lain sebelum kokohnya hafalan yang lama.
Kita mohon pada Allah Subhanahu wa Ta`ala semoga Dia mengkaruniakan dan memudahkan kita untuk menghafal kitab-Nya, mengamalkannya serta dapat membacanya di tengah malam dan di tepi siang. Wallahu alam bishawwab.

Masya Allah apakah aku masih berbuat maksiat? apakah aku terlalu sibuk dengan dunia?
Astaghfirullah.....astaghfirullah,,,,ampuni hamba Mu ini ya Rabb. . . .
Ya Rabb semoga aku bisa menghafal dengan baik, paham bacaan dan artinya. . .
Ayo Menghafal. . . .
Semangat...!!!!






 



4 komentar:

  1. andre gunawan20 Maret 2010 21.32

    yaa.
    saya di pondok 2 tahun..tapi hafalam saya hilang semua..
    gimana cara mempertahankan

    BalasHapus
  2. emang sulit menjaga hapalan,
    antum harus sring mengulang-mengulangi nya,
    minimal sehari sekali atw styp sblum tidur ap2 yg udh hafal di ulangi...
    saya juga masih mengalami kesulitan dalam menghafal Al-quran,,tpi hrus tetap berusaha trus menghafal dan mempelajari nya...

    Semangat....!!!

    BalasHapus
  3. subhanalloh! ajari dong!

    BalasHapus
  4. rumah tafidzh di MEdan dimana yah alamatnya? khusus untuk ibu rumah tangga usia 20 an thn.

    salam
    085711555749

    BalasHapus